Selasa, 27 Juli 2010

FF -> There Is No One (No Other)

There Is No One (No Other)


Angin besar beradu dengan air yang berjatuhan dari langit. Beberapa orang berlarian menghambur menyelamatkan tubuhnya dari hujan yang kian deras. Seorang gadis mencoba melindungi bagian kepalanya dengan tangan mungilnya. Ia merengut, menahan pedihnya air hujan yang mulai menyusup dalam matanya. Semenit yang lalu, ia baru saja turun dari bus. Dan baru saja melangkahkan kakinya untuk sesegera mungkin sampai di gedung apartemennya. Namun begitulah, hujan yang tiba-tiba mengguyur kota, tak memberikan kesempatan padanya untuk sekedar berteduh. Kepalang basah, tubuhnya sudah basah sedemikian rupa, berteduh tak akan mengubah apapun. Yang ia tau ia ingin segera sampai di kamar apartementnya, setelah sebelumnya melakukan sesuatu atas permintaan temannya.

Jaket coklat tebalnya yang basah membuat tubuhnya berat. Tas tangan berwarna hitam tak luput oleh guyuran hujan, sesekali gadis itu mencoba menggunakan tas tersebut untuk melindungi wajahnya karena terpaan angin yang bercampur hujan kadang terasa menyakitkan menampar wajahnya. Sepatu berhak tingginya makin menyulitkan jangkauan langkahnya. Bukan hal yang mudah, berjalan dengan menahan beban karena jaketnya yang basah bertambah berat. Dalam hati, gadis itu menggerutu, sebenarnya kalau saja ia tadi menolak permintaan temannya, ia bisa turun di tempat pemberhentian berikutnya, agar lebih dekat berjalan menuju apartementnya. Tapi ia ingat, sejam yang lalu teman baiknya sekantor merengek-rengek padanya untuk meminta bantuan kecil. Ya…..bantuan kecil, dan sekarang menjadi bantuan besar mengingat ia menjalankan tugas dari temannya itu di iringi dengan penderitaan terlebih dulu. Nafasnya terengah-engah, sesaat kemudian ia sampai di depan sebuah café kecil bernuansa merah. Papan namanya terpampang jelas diatasnya. Gadis itu mendongak memastikan tempat tujuannya tepat. ‘De Café Daeum nal achim’. Ia berlari dan berhenti sejenak tepat di depan pintu café tersebut. Ia mengatur sedikit rambutnya dan memeras jaketnya disana-sini yang meneteskan air yang deras disetiap ujungnya. Kemudian mengeluarkan suatu bungkusan kecil dari dalam tasnya. Yang entahlah apa isinya.

“Kau harus membayar semua ini yewon~ah!!!”, gumamnya menggerutu sendiri sebelum mantap memasuki pintu café.


**************
“Klinting…klinting…”.
Suara Lonceng yang ringan berdentang, membuat seorang pria yang tengah sibuk berkutat dengan bukunya terhenyak. Spontan ia menutup buku itu dan menyelipkan bolpoint, dan meletakkannya di atas meja. Ia menggeser bangkunya, dan berdiri kemudian membungkuk.

“Selamat datang…..”, ucapnya ramah menerima kehadiran seseorang yang masuk dari balik pintu café. Kemudian tatapannya berhenti, raut wajahnya terkejut.

“a…a….”, gadis itu gugup saat pria dengan celemek merah itu memandanginya dari atas sampai bawah.

“Agasshi!!! Kau basah kuyup!! Silahkan duduk sebentar!! aku akan menyiapkan sesuatu untuk mu!”, ucap pria itu, kemudian mempersilahkan gadis itu untuk duduk.

“…k..kundae….”.

“Chamshiman Kidarimnida!!”, sahut pria itu tanpa mau mendengarkan kelanjutan omongan gadis tersebut. Ia berlari kecil dan menghilang dibalik pintu yang didepannya terpampang tulisan besar ‘khusus pegawai’. Gadis itu tak berani duduk, ia sadar betul kondisi tubuhnya yang basah, sungguh tak enak hati kalau harus mengotori café tersebut. Ia mengedarkan pandangan sejenak, café itu nampak nyaman, nuansa merah dan segar dirasakannya. Pasti pemilik café ini adalah orang yang sangat cerah dan ramah pikirnya. Namun café itu sepi sekali. Mungkin karena hujan yang lebat di luar. Jadi tidak banyak orang yang berkunjung.

“Shilyehamnida Agasshi!!! Igeot!!”, gadis itu tersentak saat seseorang yang sama tadi mengagetkannya dan mengulurkan handuk berwarna soft pink.

“…..”, gadis itu hanya membelalakkan matanya sambil memamandangi handuk dalam genggaman pria yang disodorkan padanya tersebut.

“Pakai saja! Badanmu basah kuyup! Dan kau terlihat kedinginan sekali!”, ujar pria itu menyadari tubuh gadis dihadapannya sedikit gemetar menahan dingin.

“Gomapseumnida!!”, ucapnya ragu sambil tersenyum dan meraih handuk itu. ” Sebenarnya saya kemari mau mencari seseorang dan memberikan sesuatu……emmm….s..saya mencari Oh Wonbin….apakah ada yang bernama…Oh Wonbin disini???”, gadis itu bertanya perlahan, berharap nama yang barusan ia sebutkan tidak salah. Seingatnya tadi, sahabatnya menitipkan sesuatu untuk seseorang yang bernama Oh Wonbin. Ya, semoga itu tidak salah.

“Hyuuuung!!! Kau mengambil handuk….dii loker…..ku”, belum sempat pria bercelemek itu menjawab pertanyaan si gadis. Seseorang dengan pakaian yang hampir sama keluar dari pintu ‘khusus pegawai’ tadi. Bedanya ia tak mengenakan celemek. “ah…ada pelanggan…??”, ucapnya kaget menyadari seseorang sedang berbicara dengan orang yang di carinya sejak tadi.

“A…Oh wonbin!!! Kemari!!”, pria bercelemek itu memanggil seraya mengayunkan tangannya ke atas. “Agasshi…ini pria yang kau cari”.

Pria yang bernama Oh Wonbin itu pun berlari menghampiri mereka berdua.

“….ada perlu apa nona??”, tanya wonbin sopan setelah membungkukkan tubuhnya.

“Mmm…igeot! Seorang teman menyuruh saya memberikan ini pada anda!”, gadis itu menglurkan tangannya yang sedari tadi menggenggam bungkusan kecil. Wonbin menatap benda itu kemudian menerimanya. “Yewon! Han Yewon yang memberikannya”, imbuh gadis itu lagi.

“Ahhh….Saerin Nuna?? Kaukah itu???”, pemuda itu tiba-tiba memekik. Ia menunjuk-nunjuk wajah gadis dihadapannya dengan mata berbinar.

“…d…darimana anda tau nama saya???”, gadis itu terheran-heran dengan ekspresi yang lucu.

“nuna….tidak usah berbicara formal seperi itu!!! Yewon…dia sering bercerita tentangmu…dan tadi dia menelponku….dia bilang kau akan mengantarkan titipannya! Karena kita sudah bertemu…..sekalian saja… perkenalkan aku Oh Wonbin!! Kekasih Han Yewon!!”, ujar wonbin mantap dengan mata yang seolah membara.

“Kekasih???”, pekik Sae Rin. Mulutnya menganga lebar. Bagaimana bisa sahabat dekatnya itu menyembunyikan statusnya. “Dasar….sejak kapan ia tak bercerita padaku kalau ia sudah mempunyai pacar….?”, gumam saerin dalam hati.

“Ya….memangnya yewon belum bercerita pada nuna ya?? Aku ini kekasihnya….hehehe…akhirnya aku bisa melihat dan bertemu dengan Sae Rin nuna!”, wonbin tersenyum nakal.

“Ehm…ehmmm…”.

Wonbin terus saja tertawa tanpa menghiraukan gelagat pria disampingnya. Pria bercelemek merah tersebut masih berdiri tegak memandangi obrolan wonbin. Ia sesekali menggeleng-gelenegkan kepalanya melihat tingkah wonbin yang terlihat sok akrab.

“Ehemmm!!”, pria itu berdehem agak keras. Berhasil, wonbin baru sadar kalau ia sudah menelantarkan pria disampingnya.

“ehehe…Nuna…kenalkan….ini Yoochun hyung!!”, wonbin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum geli karena rasa bersalahnya pada pria yang bernama yoochun itu.

“Park Yoochun imnida!!!”, yoochun memamerkan senyum terbaiknya sambil mengulurkan tangan.

“Choi Sae Rin imnida”, sambut saerin.

****************

“Maaf merepotkanmu!”, saerin membungkukkan badannya saat keluar dari mobil. Hanya sedikit gerimis yang tersisa.

“Gwenchanayo….tak usah sungkan begitu!”, pria di dalam mobil itupun melambaikan tangannya sambil tersenyum manis. “Cepatlah masuk, dan hangatkan tubuhmu….nanti kau bisa masuk angin! Jalga”, mobilnya perlahan melaju meninggalkan depan lataran apartement berwarna coklat yang berdiri kokoh. Beberapa detik setelah menarik nafas sesaat, saerin pun membalikkan tubuhnya, melangkah memasuki gedung apartement. Tanpa sadar, saerin tersenyum-senyum sendiri saat mengingat perdebatan kecil di café tadi. Seorang pria yang bernama park yoochun itu memaksa untuk mengantarkannya pulang. Dan dengan seribu alasan Sae Rin sudah mencoba untuk menolak. Apartementnya tak cukup jauh dari café itu. Hanya dengan 5-7 menit berjalan kaki saja sudah sampai. Tapi entahlah, yang pasti ia kalah dalam perdebatan itu.

Sae Rin baru saja keluar dari pintu lift, saat tiba-tiba seseorang mengejutkannya dibalik pintu itu.

“Saerin~ah???”, kenapa kau hujan-hujanan???”.

Seorang pria bertubuh tinggi tegap memandanginya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memang kondisi gadis itu tidak cukup baik kelihatannya. Rambutnya yang basah dan kusut, hidungnya merah, dan bibirnya yang sedikit gemetar itu sudah mulai memucat. Saerin tersentak, ia baru sadar dari lamunan sesaatnya, saat sesorang yang berdiri dihadapannya kini sedang memegang pundaknya.

“Oppa???”, gumam saerin. Tanpa banyak babibu lagi, pria itu segera menarik tangan saerin dalam genggamannya. Ditariknya gadis itu menuju pintu kamar bernomor 507.

“Kunci!! Berikan kuncinya!!”, perintah pria itu tak sabaran. Saerin segera membuka resleting tas tangan berwarna hitamnya dan merogoh saku kecil didalamnya.

“…i..ini…”, ucapnya kaku.

“Ayo cepat masuk! Langsung mandi!!! Aku akan memasakkan sesuatu yang hangat untukmu!!..........Jangan banyak protes!! Ppali kkaja!!”, perintah pria itu tegas, sebelum saerin sempat membuka mulutnya.

Saerin tertunduk, ia menurut saja. Dengan gontai ia berjalan menuju kamar mandi. Pria tadi menggeleng pelan sambil terus memandangi tubuh saerin yang berjalan seperti mayat hidup.

“Ckckckck, dasssaaarrr!!! Pabo!! Sudah tau cuaca sedang buruk …..kenapa dia masih nekat hujan-hujanan??”, ia menggerutu tanpa memalingkan tatapannya dari punggung saerin sampai saerin masuk ke dalam kamar.

Setengah jam kemudian saerin keluar dari kamar mandi, mengenakan kaos putih longgar dan celana pendek.

“Duduk!! Lalu minum ini!!!”, perintah pria itu tetap tegas, lalu menyodorkan secangkir coklat panas.

“Yonghwa oppa!!! Kenapa kau galak sekali”, saerin merengut. Ia kesal melihat pria yang kini berdiri dihadapannya itu.

“Errgggghhhhhhhh…”, yonghwa mengacak gemas rambut saerin yang masih basah. “Aku tahu kau anak yang keras kepala! Kalau aku tidak galak padamu, bagaimana kau mau menurut??”, kali ini yonghwa menyentil hidung gadis mungil yang sedang memeluk cangkirnya dengan kedua tangan. “Coba lihat!! Rambutmu juga kenapa belum kau keringkan??”, tambah yonghwa. “mana handukmu!! Sini ku keringkan!!”.

Saerin menunjuk arah kamarnya seraya menjontorkan bibirnya.

**********************

“Apa yang kau lakukan hujan-hujan begini??”, Tanya yonghwa sambil terus memijat-mijat kepala saerin, dan menggosok rambut gadis itu dengan handuk. Saerin menyeruput coklat hangat dalam cangkirnya. Badannya bersandar tepat dipinggiran sofa tempat yonghwa duduk. Kemudian kepalanya mendongak ke atas.

“Bukan urusan oppa!!!”, gerutu saerin.

“Anak nakal!!!”, jawaban saerin tadi membuat yonghwa semakin gemas, ia menyampirkan handuk sekenanya. Kemudian mengaitkan kedua tangannya pada leher saerin. “Gggrrrhhhh!”, yonghwa membentur-benturkan kepalanya sendiri pada kepala saerin.

“Awhhh, oppaaaa!! Keumanhae!!! Aku bisa mati tercekik!!!”, suara saerin makin parau seiring rangkulan yonghwa yang kian erat mengancing lehernya.

“Ayo katakan!! Kenapa kau main hujan-hujanan!!! Baru nanti aku lepaskan!!!”, yonghwa berhenti membenturkan kepalanya, dan kini meletakkan dagunya dipundak saerin. Membuat jarak yang begitu dekat, spontan saerin mengalihkan wajahnya menjauh, menghindari sapuan nafas yonghwa yang sempat terhirup olehnya.

“Ara…ara!! Tadi aku dimintai tolong yewon untuk mengantarkan sesuatu, tapi tiba-tiba saja hujan!!”, saerin mengatur nafasnya. “e….sudah, sekarang lepaskan!!”.

“Dasar kelinci!! Kau kan tahu, tubuhmu lemah, gampang sakit! Kenapa kau tidak berteduh dulu bodoh!”, yonghwa melepas rangkulannya, beranjak dari tempat duduk, lalu duduk disamping saerin.

“Huhhhhhh!! Bilang saja kau takut tidak akan ada lagi yang akan memasakkanmu sarapan kalau aku sakit!! Iya kan oppa??”, saerin mengerucutkan bibirnya, dan menggoyang-goyangkan cangkirnya, lalu mereguk sisa coklat dalam cangkirnya.

“ehehehehehe…..tidak juga”, yonghwa terkekeh geli.

“Huh! Ehm….oh ya…tadi kenapa oppa kebetulan ada di depan lift??”, saerin menghadapkan tubuhnya pada yonghwa setelah meletakkan cangkirnya di atas meja.

“Soju ku habis! Kau tahu kan? Aku tak bisa hidup tanpa soju…hehehe”, cengir yonghwa sambil memegang remot ditangannya dan memindah-mindah cannel tv.

*******************************
“Hoaaahhhmmm”.
Pria bertubuh jangkung itu menggeliat merentangkan tangannya, menguap kemudian terpejam lagi. Tangannya meraba-raba meja yang berada tepat disamping tempat tidurnya.

“Tsk…..nghhhhmm…”, yonghwa membalikkan sisi tubuhnya. Jemarinya meraih jam weker digital dan mendekatkannya ke arah wajah. Sebelah matanya terbuka enggan untuk melirik angka-angka yang terpampang.

”.......................ng...............Huwaaahhhhh????!!!”, yonghwa memekik spontan. Mulutnya menganga lebar membentuk bulatan besar. ”aisshh~....”. Yonghwa berguling cepat kesisi ujung tempat tidur.
  
”Kelinciiiii!!! Kenapa kau tak membangunkanku???”, Yonghwa berteriak cukup keras dan membuka kenop pintu kamar saerin yang tidak terkunci. Rupanya saerin masih bergeming di tempat tidurnya dengan selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya.

”Hei anak manja!! Ppali ireona!! Kenapa tidak membangunkanku dan lagi...kemana sarapan di atas meja?? ”.
Yonghwa menepuk-nepuk sisi tempat tidur, namun Saerin tak juga bergerak. Yonghwa mengernyitkan dahinya, rasa khawatir tiba-tiba menyeruak ke dalam pikirannya. Dan benar saja, saat yonghwa menyingkap sebagian selimut, ia mendapati saerin masih terpejam dengan bibir yang memucat, tubuhnya meringkuk menggigil.

”Saerin????”, yonghwa dengan segera melempar tas nya dan meraba kening saerin.

”Ck....sudah kuduga....”, yonghwa segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

”....ck....ayo angkat!! Grrhhh...”, yonghwa berkali-kali menekan-nekan keypad ponselnya. ”a...sooyoon~a....hari ini aku tidak masuk kuliah...saerin sedang sakit!! Iya....hmmm....sudah jangan cerewet!!! Jangan kesini!!! Kalau kau kesini lalu siapa yang mengabsenkanku bodoh??? Aku bisa mengurusnya!!! Pip”, yonghwa langsung mematikan ponselnya dan melemparnya sembarangan. Ia melepas sepatunya dan melemparkan sekenanya. Kemudian berlari ke arah dapur.

*********************************************************
”Sudahhhh!!! Aku tidak mau lagi!!!!”, rengek saerin saat suapan bubur yang ketiga hampir masuk ke dalam celah mulut mungilnya. Handuk hangat masih menempel di dahinya.

”Diam dan menurut saja!!! Ini buah kesalahanmu sendiri!!”, yonghwa menatap tajam, dan kembali menyodorkan sesendok demi sesendok bubur.

”Sudaaaaahhh, aku mau muntahhh oppaaaa!!”, saerin memekik lemah, mamalingkan dan menjauhkan wajahnya.

”Ya!! Kau jangan memaksanya!!!”.
Yongwa terperanjat, sesorang yang tak di undang rupanya telah masuk kedalam kamar saerin tanpa diketahuinya.

”Sooyoon??? Kenapa kau bisa masuk????”, yonghwa melotot.

”Pintu depan tidak terkunci! Aku sudah memanggil-manggil dari luar, tapi tak ada respon. jadi aku masuk saja!”

”Bukannya aku menyuruhmu untuk tak kesini dan tetap masuk kuliah??”

”Tenanglah!! Aku sudah meminta Moonchul untuk mengisikan absen kita! Oh iya, aku juga membawakan sesuatu supaya mood makan saerin pulih!! Tadaaaaa....”, sooyoon menunjukkan palstik yang ia bawa , dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.

”Oppa???!!!”, saerin tersenyum melihat sekotak es krim coklat yang disukainya. Matanya yang sayu sedikit besinar.

”Shirheo!!”, gertak yonghwa saat saerin hampir meraih kotak es krim itu dari tangan sooyoon.

”Bodoh!! Kau sedang demam!! Mana bisa sembuh dengan es krim coklat!!??”

”Tapi...tapi....”, mata saerin berangsur sayu.

”Jangan membantah saerin~a!! Cepat minum obat, lalu tidurlah!!”, yonghwa mengurangi volume suaranya dan mengelus lembut rambut saerin.

**********************
”Pabo!! Kenapa kau mengacau???”, Yonghwa menggeram sambil meneguk softdrink ditangannya.

”Mengacau?? Apa maksudmu?? Aku sama sekali tidak mengacau!”, sooyoon membela dirinya. Pria manis berkacamata itu membanting tubuhnya di atas sofa. Dan melipat kedua tangannya untuk menumpu kepalanya.

”Membawa es krim, itu adalah kekacauan! Saerin sedang sakit, kenapa kau begitu bodoh membawakannya es krim?”.

”Itu taktik ku bodoh!!”.

”Taktik???”, yonghwa mengerutkan keningnya.

”Coba kau rayu dia, kalau dia patuh untuk makan dan minum obat dengan mengiming-iminginya es krim, kurasa dia akan cepat sembuh!”, sooyoon menjentikkan jarinya.

”....”

”Benar kan?? Aku juga sudah mengenalnya lama. Jadi aku juga tahu sifatnya!!”.

”..................Hmmhh....Pulanglah!”.

”Huh?? Shirheo!!! Aku mau menjaganya! Kau temui saja kekasihmu si seohyun itu!!”, sooyoon memejamkan matanya berpura-pura akan tidur.

”Aku sudah putus dengannya!!”.

”............”, sooyoon mengerjap.

”.......”.

”............hmm.....Mwo??? putus???”, pekik sooyoon yang baru saja mencerna kata-kata yonghwa.

”....aku sudah mengatakannya dengan cukup jelas...”, ucap yonghwa dingin.

”...maksudku... ehm..bukankah kau, e....ehm...kau dan dia pasangan sejati –sampai akhir hayat-???”, sooyon bangkit dari sofa dan memperbaiki letak kacamatanya.

”Kupikir tadinya juga begitu”, yonghwa mendengus sambil melemparkan kaleng softdrink ke tempat sampah di ujung ruangan sekenanya.

”Maksudmu??”, sooyoon masih belum mengerti benar apa yang di ucapkan yonghwa barusan.

”Ada banyak yang perlu ku perbaiki....”.

”Huh??? Maksudnya??”, sooyoon mengangkat sebelah bibirnya. Tandanya ia belum mengerti sama sekali kali ini.

”......aku memergokinya jalan bersama pria lain”.

”Uhm, jadi maksudmu dia selingkuh?”, kali ini sooyon mengangkat sebelah alisnya.

”Bukan juga, pria itu ternyata adalah sepupunya sendiri”.

”Mwo?? ..ssshh~ Lalu apa yang perlu dipermasalahkan??”.

”Anehnya, aku tidak merasa sakit..mm.. kau tahu kan... sewajarnya seorang pria yang melihat kekasihnya sendiri berjalan dengan pria yang sebelumnya kau tak ketahui siapa itu, apa yang harusnya dirasakan?? Apa yang kau rasakan??”, yonghwa memandang sooyon yang saat itu terlihat bingung.

”a..?? maksud...”

”Iyyyaa!....apa yang kau rasakan jika kekasihmu jalan dengan pria lain yang kau kira selingkuhannya!”, yonghwa bertanya gemas.

”a...itu... yang pasti sakit sekali. Dan aku ingin menghajar lelaki itu saat itu juga”.

”dan itu sama sekali tak kurasakan”.

”Maksud...mu?’, sooyoon hampir beralih frustasi karena saat ini ia benar-benar merasa bingung dan idiot.

”Pabo! Kau sarapan apa pagi ini?? Kenapa begitu bodoh??”, yonghwa kesal melihat sahabat dihadapannya kini tak kunjung mengerti.

”....”.

”aku sama sekali tidak CEM-BU-RU! ”, yonghwa berkata tegas, menekankan tiap suku katanya.

”Jadi??? masa iya kau memutuskannya begitu saja karena kau tak cemburu??”.

”Bukan, bukan itu yang membuatku putus dengannya”, yonghwa mendengus lagi.

”Lalu?”

”Entahlah”.

”Haisssh~ dasar pria, dimana-mana sama saja!”, sooyoon menggerutu pelan.

”Apa??? Apa kau bilang tadi? Memangnya kau juga bukan pria??”, yonghwa menghampiri sooyoon dan menjitak kepala laki-laki itu.

”argh~ Memang iya kan??....tapi aku bukan pria sepertimu.”

”Pria sepertiku??”.

”Kau kan playboy, sedangkan aku adalah perjaka berbudi yang menghargai wanita!”, sooyoon berkata angkuh dengan ekspresi yang dibuat-buat.

”Huh?????”, yonghwa hampir saja muntah mendengarnya. ”Cih!! Kalau kau bukan playboy, lalu siapa gadis-gadis yang selalau bergelayut manja di sekelilingmu, setiap hari, ehm ralat, setiap waktu!”.

”Mereka yang terpesona padaku, bukan aku yang menginginkannya”, sooyoon mencoba membela dirinya.

Yonghwa menggeleng tak percaya, dia sering melihat sahabatnya itu menggandeng seorang wanita di setiap kesempatan.

”Cihhh! Berhentilah membual, aku tahu siapa dirimu. Berunntung kau tidak menjadikan saerin sebagai korbanmu”.

”Tsk, aku berkata benar, aku sama sekali tidak memacari mereka”, sooyoon membelalakkan matanya. Tangannya diangkat dan kedua jarinya membentuk huruf v. ”Jeongmal!!”.

”Kau tidak memacari mereka, tapi mengambil keuntungan dari mereka. Iya kan??”, yonghwa mulai mencibir.

”Sok tahu, meski kau sahabatku. Kau tak sepenuhnya tahu semua tentangku. Jadi diam saja”.

”Aku akan diam, kalau kau tak menyentuh saerin”, yonghwa memalingkan wajahnya dan berjalan menuju sofa untuk kemudian menyalakan TV.

”Tsk, cerewet!! Kau tidak bisa melarangku!”, sooyoon berkata gemas dan sedikit kesal.

”Tentu bisa, aku ini penjaganya!! Jadi jangan macam-macam!!”, yonghwa melirik tajam ke arah sooyoon.

TBC...
To Be continued..
Coment iah^^

0 komentar: