Minggu, 18 Agustus 2013

I'm Learning

Belajar.....Aku masih belajar.....dan aku sedang belajar
Ikhlas itu gak mudah
Meski cukup mudah untuk dikatakan, I-K-H-L-A-S ......
6 huruf yang menjadi luar biasa bila seseorang meyakininya.
Mulut dan lidah kita akan dengan sangat mudah untuk melontarkannya....tiada batasan siapapun sanggup mengucapnya selagi ia mampu berbicara. "Aku ikhlas kok", dan beberapa orang ada yang mengucapkannya dengan seulas senyum bertengger di bibir, atau mungkin justru dengan wajah datar, skpetis....atau yang lainnya.
Pernahkan kalian menela'ah, di beberapa kejadian kehidupan kalian, yang telah lalu...
Saat kalian menemukan atau menemui sesuatu yang membuat kalian gerah, marah, sakit hati, merasa tak terima, kesal, penat, oleh karena sesuatu atau seseorang memperlakukan kalian dengan tidak semestinya. Lalu kalian mencoba untuk melupakannya, memaafkannya, dan bahkan mengikhlaskannya?
Ikhlas itu sulit.....kalian akan dengan sangat mudah bilang mengikhlaskannya, tapi suatu ketika saat kalian mengingatnya, atau bahkan mengungkit-ungkitnya, kalian kesal lagi, marah lagi, atau mungkin setidaknya merasa keikhlasan yang kalian berikan itu tak setimpal dengan apa yang telah mereka perbuat padamu. Itu berarti kalian belum ikhlas.
Keikhlasan itu indah, tapi sangat sulit melakukannya. Contoh yang lain, seorang istri yang sedang di uji keikhlasannya. oleh suaminya yang ingin memadu kasih dengan wanita lain. Memperistri orang lain selain dirinya. Seperti apapun dia mengiyakan, bahwa ia ikhlas di poligami, apa kalian tahu...apa yang ia lakukan di kamar seorang diri. Di kesunyian ia pasti menitikkan airmata, dan mengeluh atau meminta kesabaran ekstra pada sang pencipta.
Itulah kenapa, seorang istri yang benar-benar ikhlas di poligami suami, imbalannya adalah surga.
Ikhlas bukan untuk pajangan, tapi untuk diaplikasikan ke dalam perilaku, dan keseharian. Tak usah sok bijak dan bilang kalian mampu mengikhlaskan sesuatu, memahami sesuatu, untuk memperlihatkan bahwa kalian dewasa, tapi nyatanya sikap kalian tak lebih baik dari orang lain.
Jaga lidahmu.....jaga sikapmu.....jangan melihat diri kalian saja. Lihatlah dari sudut pandang oranglain. Posisikan dirimu menjadi mereka. "Seandainya......dan seandainya.....", karena mendapatkan keihklasan dari orang lain itu sulit. Ikhlas itu mahal harganya. Jangan sampai kita menyakiti oranglain dan membuat 'hutang ikhlas' dari orang yang kita sakiti.
Aku sadar....aku belajar untuk ikhlas...belajar untuk jauh lebih baik. Belajar untuk jauh lebih peduli pada orang lain, bukan peduli pada aibnya, peduli pada kejelekannya, tapi peduli untuk kesejahteraannya. Karena apa yang kita tebar, itulah yang kita panen. Janji Allah, semua yang telah kita perbuat pasti ada balasannya. Baik kita sadari atau tidak, baik sekarang, besok, atau di akhirat nanti. Roda itu terus berputar. Gak akan berhenti.

Senin, 22 Juli 2013

Sinopsis " Kyo, Koi wo Hajimemasu " Part 1

Annyeong.... :p
Hey....this is PERDANA~~~
ini pertama kalinya saya mencoba membuat sinopsis. Jepun pulaaaaa >.<
dan ternyata lumayan berat n mbingungi. begitu banyak hal yang mau di rekap...ga tau deh bagus apa nggak. jadi harap di maklumin ya...
Oya...karna saya menonjolkan capturenya , jadi untuk menghindari loading yang lemot ato lola, maka saya bagi menjadi beberapa part. Seperti sebelumnya, maafkan sinopsis saya, masih sangat banyak kekurangan di sana sini. maklum masih amatiran soal sinop-sinopan. Sekali lagi, penulisan sinop ini hanya berdasarkan apa yang saya tangkap, dan ini pendapat saya. Jadi maap sekata-kata kalo beda sama pemahaman reader yang mungkin sudah nonton film ini.
okay....cekidot saja teman - teman
Kyo, Koi wo Hajimemasu
“Aku tak pernah menyangka, bahwa aku bisa jatuh cinta”
Dari semenjak aku dilahirkan, sampai sekarang. Tiba-tiba aku jatuh cinta dengan pria tidak baik ini”

Seorang gadis dan seorang pria nampak sedang saling bertatapan dan terlihat akan berciuman. Pemandangan dibelakang terlihat kembang api sedang meletus-letus cantik di udara. Ini pesta musim panas.
Pria itu makin mendekatkan wajahnya pada si gadis. Dekat….dekat…dekat… gadis ini juga terlihat akan menerima ciuman si pria dengan senang hati. Tapi….. tiba-tiba si gadis mencoba menghindar


“Tunggu sebentar”

Biarkan aku memulainya dari awal. (Dan flashbackpun di mulai)


Aku Hibino Tsubaki, saat aku lahir, aku terlihat seperti ini. Umur, 3tahun, 5 tahun, 7tahun.
Rumah kami adalah studio foto yang sudah di wariskan dari generasi ke generasi.  Saat ini kamera digital makin popular, orang-orang yang mengambil foto untuk moment penting merekapun jadi semakin sedikit. Rumah tua keluarga kami yang berusia 50tahun tidak mampu kami rombak.
Ini adalah ayahku, Soichiro. Ini ibuku, Setsuko. Dan ini adikku, Sakura. Ia cute, modis. Dan sedikit egois.

Dan akhirnya, inilah aku, seorang gadis berusia 15 th yang polos(sederhana) dan jadul.

“Apa kau sudah siap Tsubaki?”, Ibu memanggil. Beliau melongok dari pintu untuk melihat putrinya. Tsubaki berdiri dan mengangguk. Ibu menghampiri Tsubaki. “Tidak mudah untuk masuk ke SMA, Ibu tahu itu bukan sekolah yang kau inginkan, tapi itu adalah tempat dimana kau harus berusaha dengan keras. Jangan heran dengan lingkungan barumu. Berusahalah keras dan jangan turunkan tingkatanmu. Meski kau gagal ujian, kau sangat cerdas. Kau hanya perlu lulus dari universitas dengan baik. Kau tidak boleh merusak masa depanmu sekarang”, ceramah ibunya dengan kasih sayang. :) 
Tsubaki mengangguk sambil tersenyum “Baik bu”.



Tsubaki sedang berjalan menuju sekolah barunya. Apa yang ia lihat hari itu sungguh pemandangan luar biasa baginya. Ia terkejut melihat para gadis seusianya dengan pakaian-pakaian yang mencolok.
“Seragam macam apa yang sependek itu?”. Dan lagi ia melihat siswa laki-laki memakai anting. “Apa mereka datang kesini hanya untuk bermain-main?”.
Saat ia tengah sibuk terheran-heran, segerombol gadis tak sengaja menabraknya dari belakang. “Ah, maaf”. Gadis – gadis itu bukannya meminta maaf juga, tapi mereka malah menertawakan penampilan Tsubaki yang terlihat jadul dan tidak fashionable sama sekali.
“Tidak, tidak, tidak boleh cari masalah dengan orang lain”. Kata Tsubaki dalam hati. Tsubaki berlari kecil menaiki tangga, sesaat ia hampir menabrak oranglain lagi, namun ia masih bisa menghindar. Tapi beberapa detik kemudian ia tak sengaja lagi menabrak seorang laki-laki, dan membuat tas beserta barang bawaannya jatuh berserakan.



“Maaf”, kata itu spontan keluar dari mulut Tsubaki, sambil ia membereskan kertas dan tasnya yang terjatuh. “Apa yang kau lakukan?”, tanya lelaki yang tadi menabraknya sambil membantu Tsubaki untuk membereskan bawaannya. Saat mereka berdua tengah sibuk membersihkan barang Tsubaki yang kotor karena tercecer, beberapa pria datang dan memanggil “Tsu~...baki”.
Karena merasa di panggil, Tsubaki langsung menoleh dan berdiri seketika. “Ya?”. Tsubaki, laki-laki itu dan beberapa temannya sedikit terkejut.
“Apa kau juga dipanggil Tsubaki?”,
“Ya”.
“Hibino Tsubaki”, laki-laki itu membaca tulisan di tempat pensil Tsubaki sambil meringis. “Apa anak SMA masih menulis nama mereka di tempat pensil miliknya? Kau benar-benar memberikan kesan seorang  wanita ‘showa’. (Showa: gaya jadul, kuno, kampungan, norak seperti gaya jaman jepang dahulu kala). Nadanya terdengar mengejek.
“Tolong kembalikan”. Tsubaki merebut kotak pensilnya.
“Bukankah itu Tsubaki yang sering di bicarakan? Kereeeen !!!”, segerombol gadis-gadis tiba-tiba muncul dan melihat lelaki yang namanya sama dengan Tsubaki dengan mata berbinar. Mereka serta merta menghampiri Tsubaki dan dengan kasar mendorong Tsubaki-chan ke samping. “Bisakah kau memberikan nomor teleponmu?”.
“Tentu”.
Dan mereka berlalu sambil bergelaut manja pada Tsubaki-kun. Bisa dilihat dari sini, Tsubaki adalah seorang Playboy. Salah seorang teman Tsubaki-kun berceletuk “Jangan sampai tertangkap oleh gadis-gadis di hari pertama”.
“Diam saja”.
Tsubaki chan melihat hal itu dengan jengah. “Pria yang menjijikkan”.

Lalu sampailah pada acara penerimaan murid baru, selesai Kepala sekolah memberikan pidatonya kini giliran perwakilan murid baru dengan nilai tertinggi akan maju meberikan satu atau dua patah kata.
“Perwakilan murid baru, Tsubaki Kyouta”.
Sejenak gedung itu sedikit riuh oleh suara siswi-siswi baru.
“Murid perwakilan? Rangking 1 saat ujian masuk? Apa seheboh inikah?”, Tsubaki-chan penasaran.
 Tsubaki Kyouta yang dimaksudkan mulai melangkahkan kakinya menuju podium.

Tsubaki-chan sedikit kaget menyadarinya, saat melihat bahwa Tsubaki Kyouta adalah laki-laki yang tadi pagi tak sengaja bertabrakan dengannya.
“Kyouta, ganbatte, lakukan yang terbaik”, teriak para siswi yang terlihat seperti penggemar berat Kyouta.
“Aku di undang oleh cahaya musim semi yang hangat”. Kyouta membuka pidatonya. tapi sejenak kyouta terdiam. “Maaf, aku benar-benar lupa”. Ucapnya terus tersenyum tanpa canggung sedikitpun.
“Kyouta sudah berjuang keras”, teriak salah satu teman kyouta dari bangku penonton.
“Diamlah”. Jawab kyouta. “Bagaimanapun, semuanya lakukanlah apa yang kau inginkan dan bersenang-senanglah. Sekian ”. itu sepertinya pidato tersingkat yang pernah ada bagi Tsubaki-chan. Ia tak habis pikir, siswa-siswi di sekitarnya dengan riuh bertepuk tangan untuk tindakan yang mereka anggap keren itu.
“Keren apanya? Dia??”, Tsubaki hanya mendesah.


Adegan kemudian beralih saat Tsubaki memasuki kelas barunya. Gadis itu kini mengenakan kacamata dan dengan segera duduk di bangkunya yang berada di belakang kelas.
“Syukurlah, duduk di belakang tidak akan menarik perhatian”. Tsubaki bersyukur. Dan kita bisa lihat Kyouta sedang melihat denah tempat duduknya. Seorang gadis centil yang entah namanya siapa merengek karena ternyata tempat duduk Kyouta jauh berada di belakang. Ia berharap bisa duduk dekat dengan Kyouta. Gadis centil itu mengeluh agar Kyouta mengganti tempat duduknya. Kyouta berkata akan coba mengatakannya pada guru nanti. Dan si gadis sibuk lagi mengomentari Tsubaki-chan yang menurutnya kampungan dan seolah-olah tak cocok duduk dekat dengan Kyouta. Kyouta melihat Tsubaki dan terseyum (jahil) mulai mendekati Tsubaki-chan. Tsubaki terlihat sibuk menulis (jurnal). Dan tiba-tiba sepasang tangan mucul diatas mejanya. Tsubaki mendongak dan mendapati kyouta telah berada di depannya. Kyouta memandang Tsubaki dengan jahil, dan mencoba mendekatkan wajahnya lebih dekat pada Tsubaki-chan.

“Tolong hentikan”, Tsubaki kaget dan menunduk.
“Ini suatu kebetulan kita duduk bersebelahan. O.... Ada sesuatu yang mau kutanyakan. Apa barusan kau pikir kau akan mendapat ciuman?”, tanya Kyouta.
Tsubaki terkejut. “hal kecil seperti it..u”.

“Tidak!”, potong Kyouta. “Melihatmu saja, sudah pasti kau akan jadi incaran di sekolah ini. Seragam yang kuno, dan gaya rambut yang jadul”, Kyouta memegang kepangan rambut Tsubaki. “Dari kampung mana dia berasal? Ah, di tempat terpencil, benar kan?”.
Tsubaki hanya terdiam dan menganggap hari ini ia benar-benar sial. Kenapa juga ia harus sekelas dengan pria brengsek ini, dan terlebih lagi mereka memiliki nama yang sama. Tsubaki kemudian dengan kilat mengambil kotak peralatannya, dan dengan segera mengeluarkan gunting dari dalamnya. Ia mengacungkannya ke depan seolah mempertahankan dirinya dari Kyouta.

 “Apa yang kau lakukan?”. Orang lain mungkin berpikir kalau Tsubaki-chan bisa saja menikam Kyouta yang sudah keterlaluan padanya. Dengan terbata-bata, Tsubaki menjawab, “i...itu...ra..rambut”
“Huh??”.
“Rambutmu itu terlihat menyedihkan. Kurasa ada potongan rambut yang lebih cocok untuk anak SMA sepertimu”.
Kyouta tertawa, “yang benar saja? Kenapa aku harus mendengarkanmu?”, Kyouta mendekati Tsubaki lagi sementara Tsubaki mundur-mundur.
“Kalau kau menggangguku lagi, aku akan benar-benar akan melawan dengan mengambil tindakan terhadap rambut itu”, ancam Tsubaki. “Bisa kan?”
Kyouta memandang Tsubaki serius, tajam-tajam. Antara takjub atau mungkin heran.
 “Tunggu, jangan bertingkah berlebihan”, celetuk seorang gadis dan mendorong Tsubaki. Gadis lain ikut menimpali “Itu benar, dia terlihat jelas-jelas polos namun ia jelas menginginkan ciumannya”.“Jangan berkhayal”.
Tsubaki terdiam, dia merutuk dalam hati, “Kenapa ini jadi seperti ini? Apa mereka fansnya? Pembantunya? Apa-apaan ini?”

Seorang gadis datang lagi. (terlalu banyak gadis-gadis menyebalkan kayaknya di film ini hahahh) “Hanya ada satu orang yang menginginkan begitu”, gadis itu tersenyum jahat. “Biarkan kami memotong rambutmu!”. Ia merebut gunting dari tangan Tsubaki-chan dan menarik kepangan Tsubaki, hampir saja memotongnya.
Tapi Kyouta segera bertidak, ia menyingkirkan gadis menyebalkan itu. “Aaah, sory...sory. Jangan apa-apakan dia”, ujarnya sambil membalikkan tubuh Tsubaki dan memangkukan tangannya di pundak gadis itu. “Mulai hari ini, dia adalah wanitaku!”, ungkapnya. Seisi kelas terkejut dan mulai tertawa mengejek Kyouta yang mereka anggap bercanda terlalu berlebihan. Tak berbeda dengan Tsubaki-chan, ia terkejut.

“Tidak, aku serius”, tegas kyouta. Dan suasana kelas menjadi hening untuk sesaat. Kyouta membalik Tsubaki chan untuk menghadapnya dan dengan segera mencium gadis itu begitu saja. Chu~. Suara riuh mengiringi ciuman itu. Apa yang terjadi? Tsubaki bengong dengan apa yang barusan dia alami. 

Speechles, dan kemudian ia marah, menghempaskan lengan Kyouta dan pergi berlalu sambil menangis.
Lalu suasana berganti dengan Tsubaki chan yang gemas mencoret-coret bukunya dan menggerundel sendiri soal ciuman pertamanya yang lebih tepat disebut accident itu. 
 “Tak bisa dimaafkan, Ciuman pertamaku...yang penting. Dengan tiba-tiba dicuri oleh pria seperti itu. Tidak! Itu tidak terhitung ciuman pertama. Ini pasti cuma mimpi....mimpi buruk!”, Tsubaki lalu menyadari. “Ini bukan mimpi”. 
Di kelas, seorang gadis berwajah kebule-an lagi-lagi iseng mempromosikan Tsubaki Hibino-kita untuk menjadi panitia penanggung jawab festival musim semi. Hari kedua di sekolah, tsubaki sudah merasa akan menjadi bahan ejekan oleh setiap orang.

Guru menanyakan, apa ada yang lain yang mau di rekomendasikan untuk ikut bertanggung jawab. 
Dengan gayanya, Kyouta mengangkat tangannya “Saya”, sambil memandang Tsubaki.


"Saya"

Bersambung
To be continue 
gimana...gimanaaaaa....
saya suka sekali film ini >.< itu si Kyouta (Tori) maniiisss yaaaa.....pengen jitak-jitak gitu rasanya.
Maaf sinop part 1 dikit yaa, soalnya gambarnya banyak banget. Ternyata bikin sinopsis itu gak mudah. Makanya saya sangat menghargai teman-teman yang bersusah payah bikin sinopsis. *ngelap kringet*


Minggu, 21 Juli 2013

About Tori Matsuzaka

Tori Matsuzaka


Hoi hoi hoi.....kalian tahu cowo ganteng satu ini? hehehe.....
Yang sudah nonton "KYO, KOI WO HAJIMEMASU" atau mungkin detective conan (Heiji Hattori), atau mungkin Asuko March, gak asing liat cowo manis satu ini. Mas yang satu ini lumayan bikin saya gemes gigit-gigit bibir.
Saya belum nonton Asuko March :'(
Okay....saya masih cari-cari tau nih....ni abang kayak gimana. Semoga saja saya dapet infonya banyak-banyak. Kali aja bisa saya kenalkan ke orang tua saya buat jadi....(Lhohhhh??? Cut cut!! ini keluar dari skenario). #abaikan :p
Mentang - mentang mancung dia mau pamer idung sama saya.... >.< #abaikan


Ekspresinya itu lhooooooh *bleeding
Ini ada link interviewnya....
disini
Ini Link First fansitenya torimatsuzaka27.livejournal.com
Baru segitu yang saya dapet.... :'( ini menyedihkan... lain waktu kalo nemu info lagi saya bagi-bagi yahhh :*
18++ yah yang belum cukup umur, skip :p *gyaaaah

Kecilannya si abang :"> 
other site Tori

Cr: asianwiki, fuckyeahmatsuzakatori.tumblr, youtube, ameblo.jp


7 KUNCI KEBAHAGIAAN

7 KUNCI KEBAHAGIAAN
Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA, 7 Kunci Kebahagiaan adalah :
1. Jangan membenci siapapun, walau ada yg menyalahi hakmu.
2. Jangan pernah bersedih secara berlebihan, sekalipun problem memuncak.
3. Hiduplah dalam kesederhanaan sekalipun serba ada.
4. Berbuatlah kebaikan sekalipun banyak musibah.
5. Perbanyaklah memberi walaupun anda sedang susah.
6. Tersenyumlah walaupun hatimu sedang mnangis.
7. Jangan memutus doa untuk saudara mukmin.
Ya Allah...
✔ Muliakanlah orang yang membaca status ini
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit, Fitnah, Prasangka Keji, Berkata Kasar, dan Mungkar
✔ Dan dekatkanlah jodohnya

HUJAN TERAKHIR ( Review Karya Lama)


Hujan Terakhir

Hujan hari ini masih tetap sama, tetap dingin dan membuat hatiku kelu. Aku mendekap tas mungilku, mencari sedikit kehangatan. Air beriak di sepanjang tepi jalan, seakan berteriak menertawakanku yang tertahan dibawah pohon kecil, kedinginan, merindukan selimut di tempat tidurku. Titik-titik hujan menyempit ke sela dedaunan. Berlomba untuk membasahi baju sekolahku yang tipis. Kutengadahkan tangan dan kepalaku. Mencoba untuk memohon pada sang pohon, untuk tetap bertahan melindungiku dari deraan hujan. 
Langit begitu gelap, matahari sepertinya sudah tak ingin menemaniku hari ini. Kutatap bangunan sekolah kebanggaanku yang tengah berdiri kokoh diseberang jalan. Terlihat lengang tanpa seorangpun berpijak disana. Waktu berjalan begitu cepat, tapi hujan ini tak jua cepat berlalu. Sebenarnya hari ini aku malas untuk pulang. Aku ingin lebih lama lagi mencari sisa kebahagiaan yang mungkin masih bisa kukejar, setidaknya untuk hari ini dan esok. Kalau bisa. 
Kepalaku mulai terasa pening,dan badanku serasa mengambang. Lututku lemas, rambutku sudah basah oleh guyuran hujan. Pandangan mataku mulai kabur, dan sesaat sebelum aku limbung, kulihat sesosok orang sedang berlari ditengah lapangan basket, bermain bersama hujan. Belum mampu kekenali siapa dia, semua sudah terlihat hitam. Masih bisa kurasakan, badanku jatuh tak berdaya. Dingin. Lemah. 



Semburat cahaya pagi menyilaukanku, kukerjapkan mataku. Dan bangun dari pembaringan. Badanku sakit, rasanya ngilu ketika aku menggerakkan sendi-sendi tubuhku. Dimanakah ini? Sepertinya ruangan ini tak asing bagiku. Aku kenal ruangan serba putih ini, tapi yang jelas ini bukan di rumahku. Kuyakinkan lagi ingatanku. Lalu kuhela nafas panjang. Iya, aku baru ingat, ini UKS sekolahku. Biasanya aku memang rajin untuk kesini. Bukan untuk menolong teman yang sedang sakit, Namun untuk menolong kehidupanku untuk hari –hari anehku. Sejenak kemudian aku bingung, siapa yang membawaku kesini. Tiba-tiba terdengar langkah kaki pelan mendekati UKS. Aku takut. Dengan nekat aku turun dari tempat tidur, meskipun kepalaku terasa masih pening sekali. Selimut tebal yang tadinya menyelimuti seluruh tubuhku jatuh kebawah. Kuberanikan diri mendekati pintu, secara mengejutkan, seseorang muncul dari balik daun pintu, dan hampir saja menubrukku. Jantungku seketika terhenti sejenak, lalu berdegup dengan amat kencangnya. 
“Hey!! Kamu udah nggak apa-apa?”, tanyanya tanpa menghiraukan kondisiku, yang mengatur nafas saja sudah kepayahan. 
“Ehh???”, jawabku mengeluh sambil memegangi dadaku.
“Kamu kayaknya belum sehat betul deh! Istirahat lagi aja!”, sambil menuntunku ke tempat tidur.” Aku ambilin sarapan dulu ya! Ntar baru minum obat!”.
Kukerutkan dahiku, aku baru menyadari bahwa mahluk yang tengah duduk dihadapanku ini adalah seorang cowok.
”Kamu siapa? Anaknya tukang kebun disini ya?”, tanyaku tanpa rasa canggung sama sekali.
Dia hanya tersenyum, lalu menatapku dalam.
“Ya ampun! Orang cakep kayak gini disangkain anak tukang kebun??”, katanya tertawa. “Hehe, masak kamu nggak kenal sih sama aku?? Aku juga murid sekolahan ini. Yah meskipun kita nggak sekelas. Tapi aku cukup kenal kamu kok, kamu kan yang pernah minta tolong sama aku waktu kamu nyembunyiin anak kucing di gudang belakang sekolah. Mm, gini aja deh, kita kenalan lagi. Kenalin aku Yudha, kamu Eri kan?”, ucapnya dengan senyum yang lembut sambil mengulurkan tangannnya.
Aku mengangguk dengan senyum tipis dibibirku. 
”Kemarin kamu tiba-tiba pingsan di bawah pohon sana. Jadi ya aku bawa kesini. Badan kamu panas banget”.
”Terus kenapa kamu bawa aku kesini?? Ini kan UKS sekolah???”.
”Ehmm, sory ya!! Soalnya aku nggak tahu rumah kamu dimana. Ya sebagai pertolongan pertama, aku langsung aja bawa kamu kesini.”
”Tapi, kamu nggak macem-macem kan sama aku??”, jawabku takut, menuduhnya sembarangan.
”Oh, God!!! Gila kali kalo aku macem-macem sama kamu!!!”, jawabnya sambil mengucek rambutnya. Aku masih memandangnya dengan hujaman prasangka buruk. Memelototinya, mendesaknya untuk benar-benar jujur. Dia hanya tersenyum menahan tawa sambil memandangku. 
”Emangnya tampangku nggak meyakinkan ya?? Hahaha....kemarin itu aku minta tolong sama ibu kantin buat nanganin kamu yang pingsan. Badan kamu kan basah kuyup, aku suruh ibu kantin pinjemin baju anaknya ke kamu. Jadi aku nggak macem-macem sama kamu!! Suerrrrrr deh!!!”, katanya dengan muka manis, membuatku percaya kalau dia memang baik.
”Mmm...makasih kalo gitu.”, aku menunduk malu.

Semenjak hari itu, aku mulai mengenal Yudha. Seseorang dengan pribadi yang menyenangkan. Membuatku mulai senang menjalani hari-hariku yang selama ini hampa. Kemanapun ia selalu ada, ketika aku kepayahan menyelesaikan hukuman karena terlambat, ketika hujan datang lagi, ketika mentari menyeringai menyambut pelangi. Ia selalu memberikan senyuman manis, membuat hatiku tentram.. Dia, Yudha! seseorang dengan kepribadian indah. Seseorang yang punya senyum terindah kedua setelah ibuku. Setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat orang ingin berteman baik dengannya. Aku suka sekali melihatnya, saat dia terseyum, matanya yang kecil itu menyipit. Manis sekali. 
Dia juga terlihat manis sekali, ketika dengan serius bermain basket di lapangan sekolah. Saat bola-bolanya masuk ke ring basket. Saat dia tertawa sambil melambai senang padaku. Dia seakan ingin menunjukkan padaku bahwa dia keren. Aku hany tertawa dan menjulurkan lidahku padanya.
Kali ini, hujan lagi. Yudha berlari-lari kecil menghampiriku sambil menutupi kepalanya dengan ransel hitam yang dikenakannya
”Nih, pake dulu jaketku. Hari ini dingin banget. Aku cariin pinjeman payung dulu! Kamu disini aja!”, katanya sambil melepas jaket, dan kemudian berlari ditengah hujan lebat.
Tak lama, Yudha muncul membawa payung kecil, sambil tersenyum. Badannya basah kuyup. 
”Hehe, akhirnya dapet juga. Nih dipake juga! Biar nggak basah”.
”Tapi Yud! Kamu basah!!”, kataku khawatir.
”Udah, nyante aja! Aku nggak bakalan sakit!! Udah biasa main hujan sih! Lain kalo kamu, ntar kamu yang sakit, kalo hujan-hujanan”, dengan senyum yang seketika itu membuat hati dan perasaanku hangat. Tuhan, terima kasih. Kau telah memberikan sahabat terbaik seperti dia. 
Tanpa kusadari aku menatap yudha begitu lama. Baru kali ini aku mengenal sahabat yang begitu baik dan perhatian. Andai saja waktuku masih ada untuk esok dan selanjutnya. Aku ingin sekali membalas kebaikannya.
”Ri, kamu masih kedinginan ya?”, tanyanya sambil membenarkan jaketku. ”Aku pinjemin jaket dulu ya!”.
”A...nggak usah!! Aku nggak apa-apa kok! Pake jaket kamu aja udah anget!”, kataku sambil menariknya, mencegahnya pergi, ”Udah kamu duduk disini aja, nemenin aku! ”.
Yudha menurut dan duduk disampingku.
”Ini udah sore banget, kamu aku anterin pulang aja ya! Kalo nungguin ujannya reda, bakalan sampe malem”, tawarnya.
”Nggak!! Aku mau disini aja. Aku takut pulang!”.
”Kenapa? Emangnya ada harimau ya dirumahmu?”. Aku hanya tersenyum dan mencubit lengannya.
”Yudha! Makasih banget!! Kamu baik sama aku”.
Memang aku takut untuk pulang, bukan lantaran ada harimau atau binatang buas atau apapun itu. Tapi, dirumah membuatku merasa semakin pendek saja nafasku. Makanya aku lebih senang melihat dan menanti hujan saat ini. Merasakan dinginnya air yang jatuh dari langit. Apalagi, ditemani oleh Yudha, sahabat yang baru ku kenal. Sahabat yang baik hatinya. Sahabat yang bisa membuatku sedikit bernafas panjang. Hujan, simbol kehidupanku. Kehidupan yang penuh dengan tetes kepayahan. Penuh tetes air mata. Jantungku yang angkuh ini, ia selalu meronta, menghujamkan beribu jarum, dan menancapkan sakit setiap saat.Membuatku payah menggapai hari.
”Ri, aku boleh nanya sama kamu?”, tanya Yudha tiba-tiba, membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk, sambil melihat air yang beriak ramai di depanku.
Rasa hangat tiba-tiba datang menggelayut tanganku. Mencengkeramnya kuat.
”Ri, apa aku salah kalau aku sayang sama seorang cewek?”.
Aku masih bingung, kenapa tangannya terus menggenggam tanganku. Yudha menatapku dalam dan lekat. 
”Apa aku salah kalau cewek itu adalah kamu?”, kini ia memegang pundakku, kian dalam menatap wajahku. Payung yang sedang kupegangpun terlepas begitu saja tanpa kusadari.
”Aku sayang sama kamu Ri!!”.
Aku terhenyak sesaat, kutepis tangannya dari pundakku. Berlari jauh tanpa memalingkan muka. Tak menghiraukan teriakannya memanggilku. Tak bisa ku bedakan, hujan ataukah tangis yang membasahi pipiku. Aku takut, Tuhan!. Kenapa semuanya begini? Dadaku panas. Tiba-tiba aku tersungkur, badanku tak bisa bergerak. Kudengar hentakan kaki yang keras dan cepat menghampiri tubuhku. Mengangkat dan memapah tubuhku. 
”Yudha!! Maafin aku!!”, jawabku lirih sebisaku.
Dengan cepat yudha berlari mencari tempat yang teduh. Menyandarkanku dan menggosok-gosok tanganku yang telah dingin dan beku oleh hujan.
“Ri, plis maaf!!”, raut wajahnya khawatir. Seketika air mataku luruh tak terbendung. Aku tak sanggup berkata-kata.
“Yyud,,,”, kataku terisak, “ Aku nggak pantes buat kamu. Aku nggak bisa membalas kebaikanmu, dan aku nggak akan pernah sanggup untuk selalu ada buat kamu!”.
”Tapi Ri, kenapa?”, tanyanya cemas.
Aku hanya bisa tertunduk dalam. Aku takut membuatnya berharap banyak dariku. 
Hujan hari ini, akankah bisa kurasakan esok nanti. Masih dapatkah kuhirup bau semerbak hujan sore hari. Masih dapatkah aku melihat pelangi melengkung senyum indah tatkala hujan pergi. Kulihat Yudha tertunduk lesu, menghela nafas panjang. Kuberanikan diri menyentuh pundaknya.
”Maaf ,,,”.
Belum sempat aku melanjutkan kata-kata. Yudha merangkul pundakku. Menelungkupkan wajahnya tanpa berani memperlihatkannya padaku.
”Aku nggak peduli meski kamu nggak sayang sama aku, meski kamu nggak mau nerima aku,tapi plis jangan jauh dari aku!”, bisiknya.
”Yudha.....”
Tuhan. Jika kau masih mengizinkan aku kembali menghirup udara sampai besok. Aku ingin membuatnya senang hari itu. Aku ingin memberikan kebahagian yang tersisa sebisaku. Jadi Tuhan, bangunkanlah aku esok hari.

Cahaya jingga kali ini begitu hangat menyinari tubuhku. Tekatku hari ini sempat membuat hatiku goyah, sanggupkah aku?. Tuhan!! Sejenak saja beri aku sedikit lagi waktu. Waktu untuk menyapa sang surya, menelan manisnya hdup yang tersisa. Kulangkahkan kaki melewati pagar rumahku. Sebelum bus-bus kota menjajah jalanan, sebelum burung-burung bercicit, sebelum semua orang memulai aktifitasnya. Aku ingin segera sampai di hadapannya. Tidak biasanya, kali ini aku begitu merindukannya. Rindu senyuman dan tawanya. Kubuang semua botol-botol obat milikku, di jurang kecil tak jauh dari rumahku. Hari ini aku tidak ingin diganggu oleh rengekan obat-obat menakutkan itu. 
Kupijakkan kakiku di sebuah rumah mungil nan asri. Aku berdiri berusaha menekuk bibirku, agar dapat tersenyum ceria didepannya. Sedikit nyeri kurasakan, kutepuk-tepuk dadaku.
”Sabar ya!! Hari ini kumohon, bantulah aku!! Tenanglah untuk saat ini saja!! ”, kuhanya bisa berharap agar jarum-jarum yang menusuk dadaku tak bertambah banyak.
Sengaja aku menanti didepan rumah mungil itu, tanpa memberi tahu pada si pemilik rumah. Membiarkannya sampai ia keluar. Badanku lemas, akhirnya aku mencoba duduk dan beristirahat sejenak diteras rumah mungil ini. Kupejamkan mata, mencoba merasakan segarnya udara pagi ini. Merasakan sedikit mimpi.
”Eri!! ”, suara itu membuatku kaget.
”Hmm, Yudha!”.
”Kenapa kamu nggak ketuk pintu, supaya aku tahu kalau kamu udah datang? Disini kan dingin Ri!! Ayo masuk dulu!”, ajaknya lembut.
”Udah nggak usah! Kita jalan-jalan sekarang yuk!! Mumpung masih pagi, nggak panas!”, kutarik lengannya.
Seharian ini aku ingin merasakan indahnya kehidupan. Menyusuri jalan berdua dengannya. Sambil menggandeng tangannya yang hangat. Aku ingin bersenang-senang dengannya, sampai nanti aku tak menyesal karena telah mengenalnya. Taman bermain yang sudah kuimpikan sejak lama. Akhirnya aku bisa bermain juga. Kutahan rasa sakitku, sebisa mungkin tertawa. Agar membuatnya tidak khawatir saat ini. Bebek air, es krim, rumah hantu, harum manis, bianglala, balon, semuanya melegakan hatiku. Terutama saat melihat dan mendengar canda tawanya. Bermain sampai matahari tertelan bumi. 
Aku berusaha kali ini, membawakan cerita lucu dan konyol, membelikannya softdrink, membuatkannya gulali berbentuk superman. Iya, Superman kesayangannya. Hanya itu yang kutahu. Selebihnya, aku hanya tahu dia seorang yang baik. Baik sekali. Tulus.
”Ri, tangan kamu dingin banget!! Kamu sakit??”, tanya Yudha saat ia menyentuh tanganku.
”Ah, nggak apa!! Ini udah biasa!! Eh, kita belum nyobain itu!!”, tunjukku, kemudian menariknya.
”Nggak!! Kamu bohong!! Kamu pucat Ri!! Ayo kita pulang!!”, tegasnya. Tapi aku hanya diam dan menunduk dalam.
”Ya udah, kalo kamu nggak mau pulang, minimal kamu istirahat ”, sambil menggandengku, duduk diatas kursi taman. Hanya terlihat beberapa orang saja disitu. 
”Kamu duduk disini! Aku beliin kamu minuman sebentar. Jangan kemana-mana. Kalo gerak 1mm aja, aku bawain ambulance!!! Biar tahu rasa, disuntik sama pak dokter!!”, katanya dengan raut wajah serius. Aku mengangguk tersenyum padanya. 
Punggung itu lalu membelakangiku dan kian menghilang dari pandangan. Kupandang langit hitam kelam tanpa ada sesuatupun disana. Tanpa ada bintang dan bulan yang menghiasinya. Kalau sanggup aku melukis langit, kan kugambarkan bermacam-macam persaaanku saat ini. Ingin sekali kutorehkan bulan, bintang, titik air, awan, matahari, dan pelangi. Egoisnya aku. Melukis semauku. Rasanya begitu lama, yudha tak juga datang. Membuatku galau.
Sesak, rasanya sesak didalam sini. Dirongga dadaku, tempat jantungku bertumpu. Udara semakin dingin. Nafasku mulai tarik menarik. Kusandarkan kepalaku pada tangkai kursi. Untuk menopang tubuhku yang hampir ambruk. Menghirup nafas dalam. Tiba-tiba titik air mulai berjatuhan dari langit. Menetesi satu demi satu pori-pori kulitku. Hujan lagi!!. Kuangkat wajahku. Sengaja kubiarkan basah oleh tetes air hujan. Kubaringkan tubuhku. Aku tak kuat lagi menahan rentetan jarum yang bertubi-tubi menghujam pembuluh jantungku. Akankah hujan kali ini adalah yang terakhir bagiku. Tuhan, terimakasih kau telah berikan hari ini. Terimakasih kau telah menghadiahkannya untukku. Rasanya mataku begitu berat.
Sayup terdengar suara orang tergopoh-gopoh menghampiriku. Memegang lenganku.
”Eri!!”, katanya lembut.
Kelopak mataku terbuka, memandang sesosok orang yang terengah-engah dengan wajah pucat pasi.”Maaf!”.
Aku tersenyum memandangnya. Tuhan masih mengijinkan aku untuk melihat seseorang yang kusayangi. Yudha mencoba melindungiku dari hujan dengan tubuhnya. Kupandangi lekat wajahnya supaya nanti aku tak kan lupa pernah mengenalnya. Kutarik tubuhnya, dan membiarkan dia duduk disampingku.
”Udah, nggak usah!”, kataku lirih. Yudha seakan tahu maksudku, ia hanya diam dan menurut. Kulihat gurat kegalauan diwajahnya. Kusandarkan kepalaku dipundaknya. Hujan mulai berangsur mereda. Hanya sedikit gerimis yang mengiringiku.
”Yudha, aku suka sekali hujan. Hujan waktu itu, hujan setelahnya. Dan hujan saat ini!”, kataku pelan. 
Ayah, ibu, maafkan aku. Meninggalkan kalian yang begitu menyayangiku. Tetes-tetes hujan kali ini seiring dengan denyut nafasku yang terputus-putus. Maafin aku ya Yud!! Aku udah nggak kuat lagi, nemenin kamu.
Sebuah gelang kecil bertuliskan YURI diperlihatkan padaku.
”Ri, coba....li...lihat gelang ini!! Ini aku pesen tadi. Lucu kan???!! Tau nggak, artinya apa???? Yudha dan Eri!!“, masih bisa kurasakan Yudha begitu sulit mengungkapkannya. Suaranya tertahan-tahan. Hatiku bergemuruh. Kulihat setumpuk air yang hampir luber dimatanya. Kupeluk tubuhnya erat.. Ku ambil sepucuk surat yang jauh hari sudah kutulis untuknya. Ku buka tangannya yang menggenggam tangannya. 
„Yudh, baca ini ya!! Tapi...jangan disini. Tunggu....sampai kamu...dirumah. Kurasakan suaranya mulai hilang. Aku mulai tak bisa merasakan denyutku lagi
“Yud, makasih!! Bu..at semuanya“.
Masih sedikit kudengar, mahluk yang biasanya tegar, menangis terisak didepanku, tak rela melepas tubuhku.
Yudha.....maaf. Aku meninggalkanmu sendirian. Tak bisa lagi menemanimu, saat hujan pulang sekolah, saat pelangi menjelma, saat canda tawa mengisi, saat sedihmu, dan saat bahagiamu. Aku hanya sanggup bertahan sampai disini. 
Terimakasih, kau sudah menjadi pelipur lara bagiku. Mengisi hari-hariku, membuat aku bisa bertahan sampai hujan-hujan sebelumnya, dan sampai hujan hari ini. Tuhan!! Jagalah dia. Bahagiakanlah dia, berikanlah dia yang terbaik. Hujan.....terimakasih.


Untuk Yudha.....
Yudha…
Terimakasih…
Aku senang bisa mengenalmu
Aku senang bisa melewati hari-hari terakhirku denganmu
Aku senang bisa melihatmu tersenyum 
Aku senang…….senang berada disampingmu

Yudha…
Aku ingin….
Ingin terus bersamamu
Ingin terus disampingmu
Ingin terus melihatmu tersenyum untukku
Ingin terus mendengar suaramu
Ingin……terus menggenggam tanganmu

Yudha….
Aku sedih….
Sedih melihatmu kecewa karna aku
Sedih melihatmu menangis
Sedih melihatmu kehujanan hanya karna aku
Sedih mendengarmu mengucap sayang padaku
Sedih tak bisa membalas rasa sayangmu
Sedih bila harus meninggalkanmu
Sedih….mengingat waktuku tak banyak untukmu

Yudha…
Aku benci….
Benci hidupku tanpamu
Benci mengingat waktuku
Benci melihatmu memunggungiku
Benci diriku yang tak bisa membuatmu bahagia
Benci…membuatmu menunggu

Yudha….
Aku bahagia….
Bahagia karna kau….
Bahagia karna senangku, keinginanku, kesedihanku, kebencianku tentangmu…..Yudha

Maaf………….


Do not Repost please :)
This is my old....old...old short fiction. :p
Maklum kosakatanya lebih berantakan dari yang sekarang.

Jumat, 19 Juli 2013

NASEHAT RASULULLAH KEPADA PUTRINYA – FATIMAH AZ-ZAHRA

Ada 10 Nasihat Rasulullah kepada putrinya, Fatimah Az-Zahra binti Rasulillah SAW. Sepuluh nasihat yang beliau sampaikan merupakan mutiara yang termahal nilainya, khususnya bagi setiap istri yang mendambakan keshalehan. Nasihat atau wasiat tersebut adalah :

1. Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya kelak Allah tetapkan baginya kebaikan dari setiap biji gandum yang diadonnya dan juga Allah akan melebur kejelekan serta meningkatkan derajatnya.

2. Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah akan menjadikan antara neraka dan dirinya tujuh tabir pemisah.

3. Wahai Fatimah! Sesungguhnya seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan kemudian mencuci pakaiannya maka Allah akan tetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.

4. Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang membantu kebutuhan tetangganya, maka Allah akan membantunya untuk dapat minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.

5. Wahai Fatimah! Yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridha kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai Fatimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.

6. Wahai Fatimah! Di saat seorang wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan Allah tetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika seorang wanita merasa sakit akan melahirkan, maka Allah tetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Di saat seorang wanita melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika ia dilahirkan dari kandungan ibunya. Di saat seorang wanita meninggal ketika melahirkan, maka tidak akan membawa dosa sedikitpun. Di dalam kubur akan mendapat taman indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala sribu orang yang melaksanakn ibadah haji dan umrah dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.

7. Wahai Fatimah! Di saat seorang istri melayani suaminya selama sehari semalam dengan rasa senang dan ikhlas, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya pada hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Allah pun akan memberikan kepadanya pahala seratus kali ibadah haji dan umrah.

8. Wahai Fatimah! Di saat seorang istri tersenyum di hadapan suaminya maka Allah akan memandangnya dengan pandangan penuh kasih.

9. Wahai Fatimah! Disaat seorang istri membentangkan alas tidur untuk suaminya dengan rasa senang hati, maka para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.

10. Wahai Fatimah! Disaat seorang wanita meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, maka Allah akan memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya, yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allahpun akan mempermudah sakaratul maut baginya, serta menjadikan kuburnya bagian dari taman surga. Allahpun menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shiratal-mustaqim dengan selamat.


Dari Abdullah bin Amr Al-Ash r.a, Rasulullah bersadbda : “DUNIA ADALAH SUATU KESENANGAN, DAN SEBAIK-BAIK KESENANGAN ADALAH WANITA YANG SHALEHAH.”

( HR. Muslim )
cr. facebook.com

TIRED

"I'm tired to think about all have u done"

Susah banget ya, kalo ternyata orang itu gak sebaik yang kita pikirkan. Kecewa saat mereka ternyata berpikiran buruk dan pendek mengenai orang lain. Tanpa alasan yang jelas membuat kesimpulan sendiri dan mulai mendoktrin orang lain untuk menjadi seperti dirinya.
Really disappointed with them.
Gak ada gunanya capek-capek membenahi, mending biarin mengalir aja. Biarkan mereka berkelakuan sesuai keinginannya, sampai saat nanti dia ngedapetin apa yang dia tebar. Tuhan gak pernah tidur. gak ada manusia yang sempurna. Tapi banyak manusia yang merasa mereka sempurna tanpa mereka sadari. Mereka berlagak tahu (sok tahu), mereka berlagak paling tahu, mereka berlagak paling benar, dan mereka menganggap apa yang mereka katakan itu benar adanya.
Allah paling tahu dasar hati mahluknya sedalam apapun, dan IA yang paling adil memberikan balasan atas segala sikap yang mahluknya tuai.
Meski kadang dan sering kita lupa padaNya, Ia selalu memberi maaf buat kita-kita ini. Yang sering bikin khilaf dan dosa. Asal kita tulus minta ampunanNya.
Allah yang Maha Besar dan Maha Segalanya aja bisa maafin hambanya. Sudah tentu kita ciptaanNya harus begitu juga.
Hanya satu yang aku minta. Semoga Allah ngasih aku dan orang-orang lain (alias kita-kita ini) kesabaran ekstra dan keikhlasan yang luar biasa :)
Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, baik kemarin, saat ini, atau besok, ingatlah....semua itu ada hikmahnya. Langit gak selamanya mendung, dan juga gak selamanya cerah. Jangan terlalu bahagia saat kau berada di tempat yang sangat nyaman, dan jg jangan terlalu sedih saat kau mendapati dirimu berada di tempat yang tidak menyenangkan. Karna di tiap sudut ruangan yang kau tempati saat ini, pasti ada celah, ada pilihan, yang membawa kita ke tempat yang lebih terang dan lebih nyaman.
Saat kau sedang di uji....ingatlah....mungkin kemarin-kemarin banyak hal, atau banyak kesalahan yang tidak disadari dah dilakuin. Mungkin ini sedikit pelebur dosa, biar kita gak sombon, biar kita nggak takabur :)
supaya kita ingat sm yang di Atas. Subhanallah.
Syukron.

Senin, 06 Mei 2013

UNFORGETABLE [ PART 1 FULL}


Unforgetable

                Yoora berlari menyusuri lorong-lorong stasiun kereta api. Sementara kakinya terus berpacu, Yoora berpikir. Ia sendiri tak yakin kenapa ia ikut-ikutan berlari dari kejaran orang tidak jelas yang bahkan tidak dikenalnya. Insting manusia yang membuatnya spontan berlari ketika beberapa saat yang lalu dilihatnya seorang pria yang berlari secepat kilat diikuti segerombolan orang yang terlihat seperti preman jalan berwajah beringas mendekatinya. Pria itu sempat menatap Yoora dan meraih tangannya sekilas, dan hal itu membuat naluri Yoora merasa ikut terancam. Tanpa sadar Yoora berlari dari kejaran gerombolan preman yang jumlahnya cukup banyak. “Sini”, Yoora merasa tubuhnya tertarik, sebuah tangan besar mengunci mulutnya. Yoora gemetar sontak memejamkan mata, ia takut, meringkuk, pasrah. Ia masih bisa mendengar derap kaki yang gaduh berkeliaran disekitarnya. Beberapa waktu kemudian, suasana mejadi hening. Langkah-langkah kaki itu mulai menjauh, hilang. Yoora masih saja memejamkan matanya.
Tangan yang sebelumnya membekapnya terlepas, tapi Yoora masih terpejam, ia mundur, berharap tembok dibelakangnya bisa bergeser sedikit banyak tapi itu mustahil. Yoora memalingkan mukanya masih terpejam. Ia tak bisa membayangkan preman apa yang sedang menyekapnya sekarang ini. Wajah brewokan, muka beringas, kumal, jelek, dan mengerikan, semua itu berkelebatan dibenaknya hingga membuatnya tak berani membuka celah matanya sedikitpun. Perasaan mencekam semakin menggerogoti batin Yoora saat tiba-tiba ia mendengar pria didepannya tertawa pelan, mirip berdesis. Bulu kuduk Yoora sertamerta berdiri begitu saja. Yoora menyilangkan kedua tangannya menutupi wajah dan tubuhnya sambil mengambil ancang-ancang ditempat sempit itu.
“Jangan! Jangan! Aku sama sekali tidak menggiurkan! Kadas, kudis, kurap, panu! Kolera!!”, Yoora sejenak berpkir, kira-kira penyakit kulit apasaja yang belum ia sebutkan. “Panuu…e….lepra….yah! apapun itu….aku mengidapnya!! Kalau kau tak mau tertular, PERGIII!!! JANGAN DEKATI AKUUU!!!!”, Yoora akhirnya berteriak, ia hampir frustasi membayangkan kalau hal yang ia lakukan sekarang tak cukup baik untuk melindungi nyawanya yang sedang terancam.
“Muaahahahahahahahaha”, Yoora bisa mendengar pria didepannya itu malah justru tertawa. Yoora bergidik heran sekaligus bertambah takut. Ia hampir menangis. “Yak!!”, seru pria itu kemudian. Ia menyentuh tangan Yoora dan menurunkannya. “Yoora~yah….kau lucu sekali…hfhfhfhfhf”, pria itu menahan tawanya, memandang yoora dengan mata menyipit dan mendekatkan wajahnya kearah gadis itu untuk melihat wajahnya lebih dekat.
Yoora mengerjap, ia membuka matanya perlahan dan menoleh. Ia terkejut, karena bukan tampang seorang pria brewokan bermata merah, dan bergigi taring yang ia dapati. Sama sekali. Sebagian hatinya menjerit lega, namun sebagian hatinya lagi masih dicekam ketakutan. Bisa saja kan, meski wajahnya tidak seram seperti yang ia bayangkan, tapi ternyata pria didepannya ini adalah tukang mutilasi yang berkedok wajah malaikat. Yoora memberanikan diri menatap pria dihadapannya. Sedikit mempraktekan ilmu psikologi yang ia dapat dari salah satu mata pelajaran dikuliahnya, ia menerka-nerka maksud jahat yang mungkin terkandung dimata laki-laki berpupil cokelat terang itu. 
“Kk…kau m..mau apa???”, tanya Yoora setengah berteriak saat pria itu justru makin mendekatkan wajahnya ke wajah Yoora. Hidung mancung pria itu hampir menyentuh hidung yoora, setengah inchi lagi. Yoora hampir menjerit, tapi kemudian ada sesuatu yang lain yang terlintas dikepalanya. Sesuatu yang terlambat untuk disadarinya. “Tu…tunggu!! Bagaimana kau tahu namaku?”, Yoora mendorong tubuh pria itu dengan telunjuknya, takut-takut.
Pria itu menyeringai memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapih. “Bodoh”, ujar pria itu dan menempelkan telunjuknya tepat didahi Yoora. “Kau benar-benar tidak tahu? Atau pura-pura tidak tahu?”, Pria itu menghentakkan kedua telapak tangannya tepat dibelakang tembok yang Yoora sandari.
“A…apa??”, Yoora shock. Dugaannya tepat, pria ini berniat macam-macam dengannya. Ia merasa sebentar lagi nyawanya akan melayang ditangan pria ini. Dalam hati ia menyesali, seharusnya ia mengambil kursus beladiri untuk berjaga-jaga dari hal semacam ini. “Jj…jangaaan~ kumohon jangan perkosa aku!”, Yoora merengek, mulai terisak membayangkan hal yang paling mengerikan yang bisa terjadi pada dirinya. “Aku masih dibawah umur tuaaann~, lepaskan aku~”, Yoora mengatupkan kedua tangannya memohon-mohon. Masih dengan posisi yang terkancing ditembok. “Ambil saja uangku….a…atau ponselkkk~~ ku??”, Yoora mengerjap, ucapannya tertahan. Sama sekali tak mengira bibir pria itu kini menempel dibibirnya, beberapa detik. Sekilas, jantung yoora berdesir. Hanya beberapa detik itu cukup untuk membuat Yoora keringat dingin. Pria itu kini menatapnya, memegang dagu Yoora sambil menyeringai kejam. Yoora masih shock, ia tak begerak sedikitpun, sampai pria itu akan mulai menciumnya lagi, Yoora tersentak dan mengambil alih lagi kesadaran yang sempat hilang beberapa detik karna ciuman tadi.
“Gyaaaaaaaaaaahhh!!!!!”, Yoora berteriak histeris dan menampar pria itu. Sesuatu yang paling ekstrim yang mampu ia lakukan.
“Ya Tuhan! Teriakanmu itu~”, pria itu menggosok sebelah kupingnya yang berdenging. “Benar?? Kau tidak tahu aku??”, kini pria itu terlihat frustasi, mengacak rambutnya sendiri dan mengusap-usap pipinya yang panas. “AKU SUAMIMU!”.
What?????
*****
                Yoora berjalan cepat, emosinya meledak-ledak. Rasanya ia ingin menyambar sesuatu disekelilingnya dengan api. Ini tidak masuk akal!!! Sama sekali tidak masuk akal!!. Semua kata itu bergulung-gulung dikepalanya. Ia kesal, sangat kesal.
                “Yoora~yah! Tunggu!”, Pria itu masih mengejarnya. Yoora berhenti dan menoleh pada pria itu.
                “Diam!! Diam!! Diaaaammm!!!”, jerit Yoora. “Membuatku lari-larian dikejar preman! Menyekapku!! Menakutiku!! Menciumku!! Dan terakhir bilang kalau kau suamiku????!! INI GILAAA!!”, Yoora histeris, ia tak menghiraukan orang-orang yang lalu lalang disekitarnya terbelalak menatap mereka berdua. Dadanya kembang kempis menahan kesal. Tiba di tepi jalan, matanya mulai sibuk mencari taksi untuk secepatnya pergi dari tempat itu, dan yang terpenting pergi jauh-jauh dari pria -hidung belang-gila-kurangajar- tadi.
                “Kau mau kemana??”, pria itu berhasil menangkap pergelangan tangan Yoora saat ia hampir masuk ke dalam taksi.
                “Gyaaaahhh!! Lepaskan aku!!”, jeritnya. Sukses membuat sopir taksi yang akan ia naiki terbelalak dan melihat mereka berdua dengan heran.
                “Baiklah, akan kujelaskan!! Kau tenang dulu!!”, teriak laki-laki itu tak sabaran. Ia mendorong Yoora masuk kedalam taksi, diikuti olehnya. “Ajusshi, tolong abaikan pertengkaran suami istri ini. Antarkan kami ke daerah ini!”, Pria itu mengangsurkan sebuah kartu nama pada sopir taksi tersebut.
                “Kau mau apa?? Mau menculikku kemana??”, Yoora masih histeris, antara rasa takut dan kesal bercampur aduk dikepalanya.
                “Ya Tuhan! Bisa kan kau diam sebentar saja? Kita perlu orang ketiga untuk menyelesaikan ini”. Ia gemas setengah mati, ingin sekali rasanya mencubit gadis yang ia sebut sebagai istrinya ini. “Oh ya, aku lupa. Istriku ini belum tahu namaku. Aku….”, pria itu memberi jeda untuk mengambil nafas kemudian menyeringai seraya mengulurkan tangannya. “Park Yoochun, suami sah mu!!”.
*** ***
                Yoora bingung. terkejut mendapati kakeknya tengah duduk dihadapannya. Ia menatap kakek kesayangannya itu dalam-dalam.
                “Kakek?? Apa kakek dalang dibailik semua hal mengerikan hari ini?”, Yoora mengernyit memandangi kakeknya dan pria –kurangajar-- disampingnya secara bergantian.
Kakek terkekeh sambil melipat kacamata yang beberapa detik yang lalu masih bertengger dihidungnya. “Tidak sepenuhnya benar! Tidak semuanya!”, jawabnya tidak menghentikan tawanya, justru malah menambah intensitas tawanya.
                “Ya….ya, tidak sepenuhnya”, pria –kurangajar- itu ikut menimpalinya dengan raut wajah menyebalkan. Membuat yoora ingin melayangkan sepatunya dimuka si kurang ajar dan berharap agar heel nya yang panjang dan tajam itu mendarat di mata pria itu.
                “Maksud kakek apa????”, Yoora histeris, ia menghentak-hentakkan kakinya mirip anak kecil yang mengeluh kalau tidak diberikan es krim. “Tolong jelaskan!! Mana yang benar dan yang tidak benar!!”, Yoora menatap kakeknya mengancam. Ia meremat tas tak berdosa yang berada dipangkuannya.
                Kakek menghela nafas panjang, laki-laki yang sudah tidak muda lagi itu berhenti tertawa karena melihat kekesalan yang bukan main-main dimata cucunya. “Hmmm, maafkan kakek sayang”, kakek menghela lagi nafasnya dan bergantian memandang pria disamping Yoora. “Park Yoochun dan kau, adalah suami istri”, Kakek mengatakannya dengan hati-hati. Dilihatnya Yoora masih menatapnya tak percaya.
                “Hey, kalau kau tak segera menutup mulutmu, aku yakin sebentar lagi lalat dan nyamuk akan bersarang disitu!”, ujar pria itu mengagetkan Yoora yang tak menyadari kalau mulutnya  menganga lebar saat kakek mengungkapkan hal yang masih sulit dicernanya.
                “Pp..pppp…Pasti kakek sedang bercanda kan??”, Yoora menatap kakeknya dengan mata yang makin melebar. Ia berharap kakeknya akan mengiyakan ucapannya dengan tiba-tiba berteriak ‘APRIL MOP!!’ saat ini. Tapi sekarang kan bukan bulan april??!!! Kakek menggelengkan kepalanya. “Bagaimana mungkin?? Aku bahkan samasekali tidak pernah mengenalnya!! Melangsungkan pernikahan dengannya juga TIDAK!!!”, Yoora berkeras.
                “Kakek hanya menuruti kemauanmu~”, ujar kakek.
                “Kemauan apa??? Yang mana maksud kakek??”, Yoora tak percaya, ia merasa tak pernah mengharapkan ini.
Kakek berdehem pelan. “Saat umurmu 5 tahun, kau merengek pada kakek untuk menikah dengannya”, kakek menunjuk yoochun dengan ujung jarinya. “Apa kau tidak ingat?? Saat itu bahkan kau menangis dan meraung-raung pada kakek saat dia pulang ke amerika”, tukas kakek.
Yoora terperangah, ia memutar ingatannya. Search engine dikepalanya sedang sibuk menyortir ingatan-ingatan masa kanak-kanaknya. Seketika bunyi ‘ting’ terdengar dikepalanya pertanda pencarian selesai, dan sekelebat ingatan tentang sesosok anak kecil laki-laki muncul. “I-ini tidak masuk akal kakek!! Bagaimana mungkin kakek mengabulkan permintaan seorang anak kecil?”, Yoora merengek manja. “Park chun!....Park kuchan?!...Dakochan!! siapapun namanya…”, teriak Yoora dan melemparkan tatapan menghujam pada Yoochun. “si brengsek ini!!! Dia hanya sekelumit ingatan masa lalu yang sudah kadaluarsa! Demi apapun, aku pasti khilaf memintanya saat itu!!”, Yoora melipat keduatangan didadanya dengan kesal. Ia menggembung-gembungkan pipi dan memalingkan wajahnya tak suka. Untuk saat ini ia tak sudi memandang kakeknya sendiri, terlebih orang brengsek disampingnya.
“Meski kau meniup pipimu sampai meletus, ataupun menghentak-hentakkan kakimu kelantai sampai jebol….kenyataannya kau dan aku sudah SAH suami istri!”, tandas Yoochun ikut sebal. Ia menekankan suku kata SAH dengan jelas. Lalu pria itu mengeluarkan map biru dan membukanya. “Kau lihat ini?? Ini surat pendaftaran pernikahan kita. Sooo….we’ve got married~”, Yoochun menyeringai, dan itu nampak sangat kejam bagi Yoora.
“Kakeeeekkk~”, kali ini Yoora menangis. Rupanya luapan rasa kekesalan yang dari tadi ditahannya akhirnya berbuah buliran airmata yang kini terus menerus berantai keluar dari pelupuk matanya. Kakek melihat Yoora dengan pandangan tak tega, tapi beliau menahan dirinya untuk tidak pergi memeluk cucunya. Dengan penuh isyarat kakek malah menatap Yoochun. Yoochun mengangguk kikuk, tapi kemudian ia meringis, ia juga merasa sedikit bersalah rupanya.

*** ****
Yoora masih menghentakkan tubuhnya kesal saat berjalan memasuki apartement yang sudah disediakan kakek untuknya dan –suaminya—Yoochun. Ia hampir saja kabur, kalau saja ia tak ingat perkataan kakeknya beberapa waktu yang lalu. Semua kartu kredit, mobil, tabungan telah disita oleh kakek. Dan jika Yoora tetap berniat kabur, “Kau akan menemukan mayatku tergantung dirumah! Apa kau senang?”, Yoora bergidik mengingatnya. Hanya kakek satu-satunya yang ia miliki. Ia tak berani menanggung resiko, atau bahkan membayangkan kakek akan meninggalkannya.
“Yeoboya~ kau mau mandi??”, terdengar teriakan Yoochun, cukup untuk menyadarkan Yoora dari aktivitas melamunnya. Yoora mengerjap, dan mendapati Yoochun baru saja muncul dari daun pintu dengan handuk melingkar dilehernya.
“Berhenti memanggilku yeobo!! Bulu romaku berdiri!”, Yoora menggeliat risih sambil menepuk-nepuk tangannya sendiri dan mengusap-usap tengkuknya.
“Why??? Bukankah itu wajar?? Kita suami istri you know~”, Yoochun terdengar meledek dengan aksen amerika-korea-nya. Laki-laki itu kemudian berjalan mendekati Yoora dan menggapai bahu gadis itu.
“Do not TOUCH me!!!”, Yoora mengibas geram, tak mau kalah. Ia menatap Yoochun tajam, lurus-lurus. “Aku sedang bertegangan tinggi!”, gertak Yoora sembari mundur menjauh dengan menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
Yoochun tergelak, ia sudah berusaha menahan tawanya. “Apa kau tahu?? Hmmphh…kkkkkk~…..saat kau bilang begitu tadi ada tanduk merah muncul dikepalamu!”, Yoochun memegangi perutnya dan terus tertawa dengan wajah memerah. Tanpa Yoora sadari semburat merah muncul di pipinya sendiri. Ia malu. Tak ingin lagi berdebat, Yoora memilih berjalan pergi meninggalkan Yoochun dikamar. Masih tertawa.
---
                “Yak, Jung Yoora!!”, teriak Yoochun. Yoora menggosok telinganya sebal.
                “Kenapa sih? Kau sukkaaa sekali berteriak??”, balas yoora.
                Yoochun meringis dan melembutkan tatapannya pada Yoora. “Ok, maafkan aku. Sekarang…..kumohon kau makan…yeobooo~”, Yoochun berusaha tersenyum semanis mungkin dan menyipitkan matanya. Yoora hanya memandang Yoochun jengah tanpa sekalipun bergerak untuk menyendok makanannya. Yoochun menarik nafas dalam-dalam. Ia berdiri dan mengangkat kursinya sendiri, beralih untuk mensejajari tempat duduk Yoora. Gadis itu terbelalak memperhatikan Yoochun. Ia tak sempat membuka mulutnya untuk protes, dilihatnya Yoochun menyendokkan nasi dari mangkuknya dan mengarahkan kemulut Yoora.
                “Aaaaa~”, Yoochun bersikap bak nanny. Tapi Yoora masih membungkam mulutnya rapat-rapat. “Aaaaaaaaaa~”, Yoochun mengulanginya. Yoora menggeleng dan menatap Yoochun tajam. Yoochun hampir menyerah, tapi secercah cahaya muncul dibenaknya. Suatu ide yang menggiurkan. Yoora mengerutkan alisnya. Ia menyadari, Yoochun kelihatannya tidak menyerah, karena pria itu sekarang tengah menatapnya sambil menyeringai sinis. “Yeobo~….”, Suara Yoochun lembut dibuat-buat, tatapan matanya seolah sayu, menatap nakal menghujam manik mata Yoora. “Kau….pilih makan?…atau kucium??”, suara Yoochun mirip berdesah, menggoda iman, jemari Yoochun hendak menyentuh pipi halus Yoora. Yoora terbelalak, menahan nafasnya. Tubuhnya mendadak kaku.
                “Tt-t—k—a--aku makan!!!”, Yoora secepat kilat merebut sendok dari tangan Yoochun dan mulai melahap nasi dimangkuknya sambil menunduk. Gadis itu merutuki Yoochun dan dirinya sendiri dalam hati. Bagaimana mungkin kejadian sepele seperti tadi membuat sesuatu bergejolak didadanya tanpa ia inginkan?? Yoochun menyeringai lebar, hatinya bersorak kegirangan menyadari kelemahan istrinya ini.
                “Pelan-pelan~”, Yoochun terkesima melihat Yoora mendadak kalap menghabisi makanannya.
                Yoora bergegas menuju kamarnya untuk segera tidur dan berharap bangun dengan keadaan normal. Ia hendak menutup pintunya ketika Yoochun mendorongnya dengan sengaja melewati pintu sambil membawa bantal dipelukannya.
                “Kau!!! Mau kemana??”, gertak Yoora panik.
                “Hmmh?? Kemana lagi? Aku kan mau tidur~”, jawab Yoochun santai dengan mata sayu, nyaris mengantuk. Yoochun berjalan dengan pasti kearah tempat tidur dan hampir merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
                “Yaaaak!! Berhenti disitu!!!”, Yoora semakin panik. Yoochun berhenti dan menoleh. “K..kau? tidak bermaksud untuk tidur sekamar denganku kk-kan?”, Tanya Yoora ragu.
                “Apa maksudmu? Bukankah kita suami istri?”, Yoochun melengos tak berniat berdebat karena rasa kantuk yang mulai menjalar dimatanya. Ia menaruh bantalnya dan membanting tubuhnya seraya memejamkan mata sambil berdesah. “hhhh, hmmm…..tidurlah, malam ini aku tidak akan menyentuhmu….”, yoochun membalikkan badannya dan beberapa detk kemudian terdengar dengkuran halus.
                Yoora terperangah, ia kesal. Umpatan-umpatan yang siap terlontar dari mulutnya tertelan begitu saja. Gadis itu berkali-kali menghentakkan kakinya mondar mandir dengan pandangan yang terus tertuju dipunggung yoochun. Sepanjang itu juga Yoora terus mengutuk kakeknya. Apartemen sebesar ini bagaimana mungkin hanya ada satu kamar tidur yang tersedia. Sebenarnya banyak cara untuk tidur bisa tidur malam ini. Yoora bisa saja menggelar futon dibawah, atau menghabiskan waktu tidurnya diatas sofa. Bukan ide yang buruk. Tapi tidak bagi gadis keras kepala ini, harga dirinya tercoreng. Bagaimana mungkin ia menggelar futon untuk tidur sedangkan pria brengsek itu tidur dengan nyenyak, empuk, dan hangat diatas sana.
TO BE CONTINUE
MOHON UNTUK TIDAK MEMPLAGIAT KARYA INI !!!!!!
Hargailah imajinasi yang meletup-letup dari kepala saya ini :)
I hope there is no SILENT READER..... :)
Happy for leave comment please.... so i can continue to the next part
감사합니다~~~ :*